Wanita Berkarier di Bidang Sains dan Teknologi, Kenapa Tidak?

Dengan perkembangan dunia yang serba digital saat ini wanita seharusnya memiliki kesempatan berkarier lebih luas, termasuk berkecimpung di dunia sains dan teknologi. Apalagi wanita kini telah terintegrasi dengan teknologi dalam kehidupan sehari-harinya, termasuk juga dalam hal pekerjaan

Selengkapnya

Anda berada disini : Beranda - Gaya Hidup

Kelola Stres dengan P3-tanpa-K “Pelarian dan Pengalihan Positif”

Gaya Hidup | 0 Komentar

Mengelola stres baik yang berasal dari tekanan kerja ataupun tekanan sosial lain dapat dilakukan dengan menerapkan P3-tanpa-K yaitu Pelarian dan Pengalihan Positif. Pada dasarnya kontrol atas tubuh kita masih sepenuhnya ada pada kendali diri kita sendiri. Maka dari itu untuk mengatasi stres perlu kesadaran dalam memilih upaya-upaya pengalihan dan pelarian, sehingga hal-hal positif bisa dicapai dan membantu melepaskan beban stres.

 

Berikut beberapa kegiatan pelarian dan pengalihan positif yang bisa dilakukan saat Anda mengalami stres :

1. Mengubah proses berpikir

Terkait pemahaman akan stres saat ini ada beberapa pendekatan termutakhir yang perlu diketahui oleh para pekerja. Masing-masing adalah perhatian atas pengembangan program kelola diri (self-management programs), penumbuhkembangkan perilaku yang diarahkan oleh diri sendiri (self-directed behavior), dan pengembangan berbagai keterampilan bantu diri (self-help).

Setelah menguasai hal-hal tersebut di atas, kita yang sedang stres diharapkan bisa mengatasi masalahnya sendiri, dengan kata lain kita tak perlu lagi berangkat konsultasi ke dokter ahli atau psikiater. Meski demikian, bukan berarti kita benar-benar stop untuk pergi ke para ahli tersebut. Mereka tetap dibutuhkan jika stres yang melanda sudah sangat akut dan susah dikendalikan.

Hal lain yang bisa dilakukan adalah berkeyakinan bahwa kondisi mental manusialah sejatinya faktor utama yang menyebabkan stres. Oleh sebab itu, alangkah baiknya jika kita lebih banyak melihat diri sendiri untuk mengatasi stres alih-alih menyalahkan pihak lain. Karena pencetus stres adalah diri sendiri, maka yang perlu disiasati adalah bagaimana kita mengubah proses berpikir atau keyakinan yang tak masuk akal di luar kenyataan. Ketika itu berhasil diubah, kita akan dengan mudah mampu mengatasi stres, kapan saja, di mana saja, dan dengan latar belakang apa saja.

 

2. Mengingat pengalaman yang meyenangkan

Banyak orang yang menyarankan untuk memikirkan atau mengingat kembali hal-hal yang menyenangkan untuk mengalihkan pikiran dari beban stres. Saran yang sederhana ini didukung oleh penelitian terbaru yang dilakukan oleh Rutgers University yang menemukan bahwa mengenang peristiwa-peristiwa yang menyenangkan bisa mengurangi respon tubuh terhadap stres. Kesimpulan yang dipublikasikan di Nature Human Behavior ini diperoleh setelah peneliti Mauricio Delgado dan Megan Speer memberi ujian yang membuat 134 relawan yang mengalami stres.

Sebagian orang diminta memikirkan peristiwa gembira yang pernah mereka alami seperti berlibur bersama keluarganya, sedangkan yang lain diminta memikirkan pengalaman biasa seperti berangkat kerja atau menunggu kereta. Kelompok yang diminta mengingat pengalaman gembira ternyata merasa lebih baik dan hormon kortisol yang mempengaruhi stres di tubuhnya hanya 15 persen dibanding mereka yang memikirkan kejadian-kejadian biasa.

Para peneliti kemudian melakukan percobaan yang serupa namun sekaligus memindai otak para relawan menggunakan fMRI. Mereka yang memikirkan pengalaman bahagia mengalami peningkatan aktivitas di bagian otak yang berkaitan dengan pengaturan emosi dan kesadaran.

“Penemuan ini membuktikan bahwa mengingat kembali atau memikirkan peristiwa gembira bisa mengurangi stress. Kita jadi tahu bahwa berpikir positif dan gembira memberi dampak yang baik dan bukan sekedar ucapan klise belaka.” Ujar Delgado.

 

3. Istirahat dengan benar

Istirahat adalah aktivitas yang melibatkan fisik dan mental untuk mencapai kondisi rileks dan tenang dalam waktu yang singkat. Istirahat bertujuan untuk menghilangkan rasa lelah, bosan, dan mengembalikan energi bagi tubuh untuk berkativitas kembali. Orang  yang mudah mengalami stres adalah orang-orang yang sering mengabaikan istirahat.

Istirahat bukan serta merta tidak melakukan apa-apa. Kebanyakan orang melakukan istirahat dengan bersantai di sofa, tidak melakukan pekerjaan rumah, atau berbaring di tempat tidur sambil bermain gadget. Namun, model istirahat seperti itu justru tidak menghilangkan rasa lelah. Jika Anda melakukan kegiatan-kegiatan seperti bermain gadget atau menonton televisi saat beristirahat, Anda hanya merangsang aktivitas mental yang kontraproduktif untuk beristirahat. Melakukan sebuah kegiatan tanpa disadari, misalnya hanya iseng menonton televisi atau mengamati lini masa di media sosial, bukanlah sesuatu yang tidak kita pikirkan. Otak kita akan tetap memproses semua yang dilakukan dan juga mempersiapkan diri kita untuk bersosialiasi.

Penelitian membuktikan, otak butuh sesuatu untuk fokus agar bisa mencapai tahap istirahat. Otak butuh sebuah tujuan. Hal-hal yang dapat dilakukan untuk memicu otak lebih aktif dan bisa istirahat salah satunya dengan melakukan peralihan yang berbeda dari yang biasa dilakukan.

Jika Anda bekerja lama di depan komputer, setelah beberapa jam beralihlah ke tugas yang lebih butuh fisik, atau berjalan-jalan di sekitar kantor. Jika Anda mengerjakan proyek yang sangat teknis dan detail, cobalah mengerjakan sesuatu yang membutuhkan sedikit kreativitas. Bila Anda seharian harus meeting atau melakukan presentasi, setelah selesai cari waktu untuk sendirian. Misalnya melakukan sesuatu di ruangan Anda untuk membuat pengaturan menu bekal sekolah anak tanpa diganggu

Otak selalu butuh dan menyukai fokus. Melakukan peralihan dua kegiatan yang berbeda akan membuat otak lebih rileks sehingga kita pun bisa memulihkan energi.

 

4. Olahraga

Sebuah studi terbaru yang dilakukan di Australia menemukan bahwa stres karena pekerjaan pada dasarnya dapat dihindari dengan olahraga, seperti misalnya lari. Dalam studi tersebut, para pria dan wanita yang tidak aktif berolahraga berpartisipasi dalam latihan cardio dan weight training selama empat minggu dengan waktu minimal latihan adalah tiga kali sesi 30 menit setiap minggu. Selain itu, mereka juga diteliti ketika tetap memilih untuk tidak berolahraga. Sebelum dan sesudah latihan selama empat minggu tersebut, para peneliti melakukan tiga tes berbeda untuk mengetahui perubahan suasana hati para partisipan. 

Hasilnya, para partisipan yang mengikuti progran latihan merasa lebih dapat mencapai hasil dari apa yang mereka lakukan setelah empat minggu. Selain itu, mereka juga melaporkan tidak merasakan adanya stres dan tekanan mental, kelelahan emosional, maupun stres. Meskipun demikian, hal ini ternyata tidak dirasakan oleh para partisipan yang tak berolahraga.

"Olahraga memiliki potensi sebagai intervensi stres yang efektif. Organisasi yang ingin secara proaktif menurunkan tingkat stres di tempat kerja dapat meyakinkan para karyawannya untuk melakukan program latihan secara teratur," tulis para peneliti dari University of New England, Australia dalam laporan tertulis. 

 

Hidup sehat dapat dimulai dari mengelola pikiran dan mental supaya tetap positif walau diterpa tekanan atau stres.

Sumber : Health.com

Sumber foto : Freepik

Komentar :


Media Sosial

Ikuti kami

Tentang Kami

Komentar Terbaru

Menarik sekali,boleh gabung gak?...
Nama: Oktaviyana di Wajah Bunda Indonesia: Senang Cari Ilmu

Hallo aku Tiwi, penyuluh online dari Arisan Mapan ini. aku...
Nama: Tiwi Mapan di Program Arisan Mapan

Terima kasih untuk tulisannya. Salam sayang untuk semua: Ibu Indonesia. reda...
Nama: Reda Gaudiamo di AriReda Tur Perdana di Usia Senja

Kontak Kami